Selasa, 10 Januari 2012

KEMAMPUAN MENULIS HURUF HIJAIYAH DALAM MATA PELAJARAN AL-QURAN HADITS PADA SISWA KELAS III MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI TELADAN PONTIANAK TAHUN PELAJARAN 2010/2011


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
       Mampu dan terampil menulis dengan baik dan benar menjadi salah satu tujuan pembelajaran di sekolah, baik yang formal maupun informal. Salah satu yang diajarkan di sekolah terutama sekolah yang berbasis agama Islam adalah diajarkannya cara menulis Al-Quran dan Hadits. Pembelajaran menulis ini dimulai pada sekolah tingkat dasar, yakni Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah.
       Kemampuan dan keterampilan dalam menulis Al-Quran dan Hadits ini menjadi salah satu bagian dari penguasaan yang harus dimiliki peserta didik. Pembelajaran menulis Al-Quran dan Hadits yang dimulai sejak dini diharapkan akan memberikan hasil yang lebih baik. Untuk menjembatani itu, diperlukan upaya yang serius dari guru agar anak didiknya mampu dan terampil dalam menulis Al-Quran dan Hadits dengan benar, tepat, dan rapih.
       Menurut Fadlulah (2008: 110), menjelaskan bahwa pada usia sekolah dasar, anak mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar: membaca, menulis, dan berhitung sebagai dasar penalaran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Pengembangan kemampuan baca-tulis dan berhitung itu dilakukan secara terintegrasi dengan pemecahan masalah sehari-hari.
       Al-Quran dan Hadits sebagai sumber utama ajaran Islam yang harus dipelajari, dihayati, dan diamalkan. Salah satu proses yang dapat dilakukan adalah dengan jalan mempelajari tulisan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. Oleh karena itu, pembelajaran menulis Al-Quran dan Hadits sangat penting diberikan kepada anak-anak, terutama di Madrasah Ibtidaiyah. Dengan menulis, anak dapat membaca kembali huruf-huruf yang ditulisnya. Selain itu, anak akan lebih cepat dan tahan lama untuk mengingatnya. Kondisi ini pada gilirannya akan memudahkan anak untuk menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran dan Hadits. Terlebih lagi jika anak telah mampu untuk menerjemahkannya.
       Allah SWT berfirman dalam surah Al-‘Alaq ayat 1-5 yang menjelaskan pentingnya belajar menulis:
اِقْرَأْبِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ.
 خَلَقَ اْلاِنْسَانَ مِنْ عَلَقِ.
 اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ.
 الَّذِيْ عَلَّمَ بِاْلقَلَمِ.
عَلَّمَ اْلاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Depag RI, 2005: 598)


       Bahwasanya Al-Quran dan Hadits merupakan salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam  di Madrasah Ibtidaiyah. Mata pelajaran Al-Quran dan Hadits  menekankan pada kemampuan membaca dan menulis Al-Quran dan Hadits dengan benar, hapalan terhadap surat-surat pendek dalam Al-Quran, pengenalan arti atau makna secara sederhana dari surat-surat pendek dan hadits-hadits tentang akhlak terpuji untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan dan pembiasaan.
       Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Teladan Pontianak yang beralamat di Jalan K. H. Ahmad Dahlan Gg. Jeruk Pontianak merupakan suatu madrasah yang sangat digemari orang tua untuk memasukkan anaknya di sekolah ini. Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak ini telah terakreditasi A. Memiliki tenaga kerja guru yang cukup baik dan professional sehingga mempunyai siswa yang sangat baik. Akan sangat disayangkan, jika ditemukan anak madrasah tidak mampu dalam menulis huruf hijaiyah yang menjadi salah satu tujuan pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah.
       Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Teladan Pontianak dengan guru yang bersangkutan menyatakan bahwa rata-rata anak kelas III  masih dikategorikan kurang dalam menulis huruf hijaiyah dengan benar dan tepat. Selain itu juga,  tidak ditemukan lagi materi yang mengarah pada kemampuan menulis huruf hijaiyah setelah kelas II seperti kemampuan membaca Al-Quran yang selalu ada dalam setiap indikator  dan tujuan pembelajaran. Padahal kemampuan menulis sama pentingnya dengan kemampuan membaca untuk anak Madrasah Ibtidaiyah.
       Melihat fenomena yang terjadi di madrasah tersebut, maka peneliti tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menulis huruf hiaiyah dengan judul, “Kemampuan menulis huruf hijaiyah dalam mata pelajaran Al-Quran-Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011”.

B.     Rumusan dan Batasan Masalah
       Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Kemampuan menulis huruf hijaiyah dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011”.
       Adapun batasan masalah yang ingin diteliti adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011?
2.      Bagaimana kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits  pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011?




C.    Tujuan Penelitian
       Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi dan fakta tentang “Kemampuan menulis huruf hijaiyah dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011”.
       Secara terperinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.  Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011.
2. Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III  Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak Tahun Pelajaran 2010/2011.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Secara teoritis
       Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dalam  Pendidikan Agama Islam, khususnya tentang menulis huruf hijaiyah.
2.      Secara praktis
       Adapun manfaat penelitian secara praktis, yaitu:
a.       Bagi peneliti; dapat mengaplikasikan disiplin ilmu yang telah diterima selama mengikuti perkuliahan dan sebagai upaya latihan dalam menulis huruf hijaiyah.
b.      Bagi guru PAI; diharapkan penelitian ini dapat memberikan motivasi dan informasi dalam pembelajaran terutama dalam menulis huruf hijaiyah yang terdapat dalam materi Al-Quran Hadits.
c.       Bagi siswa; diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan keterampilan menulis huruf hijaiyah.
d.      Bagi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak; Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk melengkapi referensi tentang menulis huruf hujaiyah yang terdapat dalam Al-Quran dan hadits.
 
BAB II
KEMAMPUAN MENULIS HURUF HIJAIYAH
DALAM MATA PELAJARAN AL-QURAN HADITS

A.    Kemampuan
1.      Pengertian Kemampuan
       Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti sanggup melakukan sesuatu. (Nurhayati, 2005: 450)
       Menurut Poerwadarminata (1994:623), kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan atau kekuasaan untuk melihat serta dapat melakukan secara lisan maupun tulisan.
       Adapun menurut Munandar (1992:17) kemampuan adalah daya untuk melaksanakan suatu tindakan berbagai hasil dari pembawaan dan latihan.
       Kemudian Mulyasa menyatakan bahwa:
        Kemampuan merupakan perpaduan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten. Dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. (Mulyasa, 2005)

       Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan merupakan kesanggupan atau kecakapan seseorang untuk melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang dimilikinya, baik dari bawaan maupun latihan secara kontinyu.
       Adapun yang dimaksud dengan kemampuan dalam penelitian ini adalah kesanggupan siswa dalam menulis huruf hijaiyah dengan benar, tepat, dan rapih dengan standar Khat Naskhi.
2.      Jenis-Jenis Kemampuan
       Disebutkan bahwa kemampuan menurut E. Simpson (dalam Abror, 1993) terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a.       Ranah Kognitif
1)      Pengetahuan
       Pengetahuan merupakan tingkat kemampuan yang harus dikuasai untuk mengenal dan mengingat kembali konsep, fakta, dan informasi yang didapatkan.
2)      Pemahaman
       Pemahaman merupakan tingkat kemampuan yang diharapkan untuk menangkap makna dan fakta dari apa yang sudah dipelajari.
3)      Penerapan
       Penerapan adalah kemampuan yang menuntut agar mampu menggunakan pengetahuan yang diketahui dan dipahami dalam situasi yang baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan sebelumnya, karena dengan memahami suatu kaedah baru tentu dapat membawa kepada kemampuan untuk menerapkan pada situasi yang baru, sehingga benar-benar mampu mempraktekkannya.
4)      Analisis
       Analisis adalah kemampuan untuk menguraikan atau merincikan sesuatu ke dalam unsur-unsurnya, sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan sebaik-baiknya.
5)      Sintesis
       Sintesis yaitu kemampuan untuk membentuk atau menyatakan unsur-unsur menjadi suatu unsur yang menyeluruh.
6)      Evaluasi
       Evaluasi merupakan kemampuan untuk membentuk pendapat yang mengandung penelitian atas suatu pernyataan, konsep, situasi, dan sebagainya. Berdasarkan kriteria tertentu, kegiatan evaluasi ini dapat dilihat dari tujuan gagasan cara bekerjanya, cara pemecahan, dan sebagainya. Oleh karena itu, kemampuan ini merupakan tingkat tertinggi karena mencakup semua kemampuan. Dengan mengevaluasi dari hasil yang sudah diterapkan, maka akan terwujud suatu kemampuan yang sifatnya adalah pengetahuan.
b.      Ranah Afektif
1)      Penerimaan
       Penerimaan merupakan kemampuan dalam menangkap rangsangan dari luar dalam masalah situasi, gejala, dan sebagainya.
2)      Merespon
       Merespon adalah reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Respon dalam hal ini, mencakup ketetapan reaksi perasaan dan kebiasaan dalam menjawab stimulus dari luar.


3)      Penilaian
       Penilaian merupakan kemampuan untuk memberikan nilai terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan hasil penilaian tersebut.
4)      Organisasi
       Organisasi adalah kemampuan untuk membentuk suatu konsep tentang suatu nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan dan menyusun suatu nilai.
5)      Karakteriasi
       Karakteriasi mencakup kemampuan nilai menghayati dan mewujudkan nilai-nilai dalam kehidupannya sedemikian rupa sehingga menjadi nilai pribadinya dan menjadi bagian dari pribadinya.
c.       Ranah Psikomotorik
1)   Persepsi
       Persepsi merupakan kemampuan untuk membedakan secara tepat dua perangsang atau lebih berdasarkan ciri-ciri fisik yang khas dari masing-masing perangsang tersebut.
2)   Kesiapan
       Merupakan kemampuan untuk menempatkan diri untuk memulai suatu rangkaian gerakan, baik secara jasmani maupun rohani.

3)   Gerakan yang Terbimbing
       Adalah kemampuan untuk melakukan serangkaian gerakan yang lancar tanpa melihat lagi contoh yang pernah diberikan, karena sudah terlatih secukupnya. Kemampuan ini dinyatakan dengan menggerakkan anggota badan sesuai dengan prosedur yang terkoordinasikan.
4)   Gerakan yang Kompleks
       Gerakan ini merupakan keterampilan yang terdiri dari beberapa komponen yang lancar, tepat, dan efisien.
5)   Kreativitas
       Kreativitas merupakan kemampuan yang mencakup kemampuan yang melahirkan pola-pola gerakan baru yang sepenuhnya berdasarkan prakarsa sendiri.
       Dari penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa kemampuan menulis huruf hijiayah ini termasuk dalam kemampuan dalam ranah psikomotorik gerakan yang terbimbing. Karena menulis merupakan suatu gerakan anggota badan yaitu tangan yang dilatih sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan.

B.     Menulis Huruf Hijaiyah
1.      Pengertian Menulis Huruf Hijaiyah
       Menulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:968) adalah membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan alat tulis (pena). Huruf hijaiyah adalah kumpulan huruf Arab yang terdapat dalam ayat Al-Quran. Sehingga yang dimaksud dengan menulis huruf hijaiyah adalah menulis huruf hijaiyah atau huruf Arab yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku atau sesuai dengan teks aslinya (teks Al-Quran).
       Kata huruf berasal dari bahasa Arab: Harfun, al-Harfu. Huruf Arab yang terdapat dalam Al-Quran terdiri dari 28 atau 30 (termasuk huruf rangkap Lam - Alif dan Hamzah) yang disebut dengan huruf hijaiyah. Cara menulis huruf hijaiyah mendatar dan dimulai dari arah kanan ke kiri. Dalam penulisan huruf hijaiyah ini terdapat banyak cara dan ragam penulisannya. Untuk membentuk antara satu huruf dengan huruf yang lainnya berbeda-beda. (Husain, 1985: 5)
       Dalam menulis huruf hijaiyah, diperlukan suatu keterampilan dan potensi yang harus dikembangkan. Jika potensi yang dimiliki oleh seseorang tidak dilatih secara kontinyu dan konsisten, maka potensi tersebut menjadi hilang secara perlahan-lahan.
       Sebagaimana yang diungkapkan Kusnawan (2004:25), pada dasarnya setiap orang telah memiliki keterampilan dan potensi dalam menulis, hanya saja keterampilan dan potensi yang dimiliki harus dikembangkan.
       Oleh karena itu, kemampuan dalam menulis merupakan kemampuan yang kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Meskipun demikian, kemampuan tersebut bukanlah semata-mata milik golongan orang yang memiliki bakat menulis saja.
       Pembelajaran menulis Al-Quran dan Hadits sangat penting diberikan kepada anak-anak, terutama di Madrasah Ibtidaiyah. Dengan menulis, anak dapat membaca kembali huruf-huruf yang ditulisnya. Selain itu, anak akan lebih cepat dan tahan lama untuk mengingatnya. Kondisi ini pada gilirannya akan memudahkan anak untuk menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran dan Hadits. Terlebih lagi jika anak telah mampu untuk menerjemahkannya.
       Menurut Ahmad Izza (2004:134), pembelajaran menulis Al-Quran diartikan sebagai suatu proses pemberian bimbingan, motivasi, serta fasilitas kepada anak tentang cara membentuk alphabet Arab yaitu huruf-huruf hijaiyah yang terdapat dalam Al-Quran. Dalam proses selanjutnya, anak diajarkan bagaimana menggoreskan alat tulis dalam merangkai huruf Arab sesuai dengan standar Al-Quran di atas kertas, papan tulis, dan lain sebagainya.
       Ketika menulis huruf hijaiyah atau huruf Arab secara tunggal (terpisah) maupun bersambung, maka bentuk setiap huruf yang ditulis akan berbeda cara menuliskannya dari satu huruf dengan huruf lainnya. Ada huruf yang bentuknya sama, yang membedakannya adalah pada jumlah titik. Sama seperti membentuk huruf latin a akan berbeda hurufnya dengan huruf b. Oleh karena itu, diperlukan suatu latihan yang sungguh-sungguh dalam belajar menulis huruf ini sehingga memiliki suatu kemampuan dalam menuliskannya.
       Dalam skripsinya Hendri Wahyudi (2004:14) menyebutkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran menulis al-Quran, antara lain:
1.      Kemampuan menulis huruf tunggal ; kemampuan dalam menulis huruf hijaiyah satu persatu dari huruf “Alif “ hingga “Ya”.
2.      Kemampuan merangkai huruf dalam kalimat ; kemampuan merangkai huruf tunggal. Kemampuan merangkai ini akan terlihat dari kemampuan membedakan mana huruf yang bisa disambung dan mana huruf yang tidak bisa disambung, serta bagaimana perubahan-perubahan yang akan terjadi ketika dalam proses merangkai tersebut.
3.      Kemampuan dalam menerapkan tanda baca dalam menulis al-Quran ; kemampuan dalam member harakat, baik itu fathah, kasrah, dhamah maupun sukun serta panjang dan pendek.

2.      Menulis Huruf Hijiayah secara Tunggal
       Surya Madya, Dkk (2004) menyatakan bahwa dalam membentuk atau cara menulis huruf hijaiyah secara tunggal dapat dilakukan dalam berbagai latihan dengan menggunakan panduan berikut ini:


























































3.      Menulis Huruf Hijaiyah secara Bersambung 
       Dari 28 alphabet Arab, terdapat enam huruf yang tidak dapat disambung yaitu: Alif, Dal, Dza, Ra, Za, dan Waw, sedangkan sisa dari huruf tersebut bisa disambung.
       Husain (1985: 32-77), menjelaskan bahwa cara membentuk huruf-huruf hijaiyah secara bersambung, yaitu sebagai berikut:
a.       Alif 
Bentuk Alif tegak lurus. Tingginya dua baris. Menulisnya dari ujung atas ke bawah dengan posisi agak miring sedikit, yaitu bagian atas serong ke kiri, bagian bawah serong ke kanan. Huruf ini tidak bisa digandeng (berada di awal atau tengah kata) tetapi bisa di akhir kata. Kalau Alif  berada di akhir kata, bentuknya juga tegak lurus, hanya cara menulisnya dari bawah ke atas.
 


b.      Ba, Ta, dan Tsa
1)      Ba, Ta, dan Tsa di awal kata
Apabila ketiga huruf ini berada di awal kata, maka bentuknya akan bermacam-macam, yaitu:
a)      Ditulis tegak yang elastis setinggi 2/3 baris, bila bertemu dengan huruf yang tegak, seperti Alif, Kaf, Lam, dan Dal; dan juga huruf yang mendatar, seperti Shad, Dlad, Tha, dan Fa, atau bila ketiga huruf tersebut ditulis panjang dan dihubungkan dengan huruf yang menulisnya ke bawah seperti Ra dan Za.



b)      Ditulis tegak yang elastis setinggi satu baris, bila bertemu dengan huruf yang menulisnya ke bawah, seperti: ‘Ain, Ghin, Mim, Waw, Ya, dan Sin.



c)      Ditulis miring ke kanan, setinggi setengah baris, bila bertemu dengan Ba, Ta, Tsa, Nun, Ra, Za dan Kaf (yang berada di tengah kata).




d)     Ditulis dari (atas) kanan ke kiri (menurun) ; bila bertemu dengan Jim, Ha, Kha dan Ra yang cara menulisnya memanjang.



2)      Ba, Ta, dan Tsa di tengah kata
a)      Berupa lekukan yang tidak  runcing.



b)      Berupa garis setinggi satu garis, bila dalam satu kata terdapat dua lekukan atau lebih dan bukan huruf Sin.



c)      Ditulis seperti pada b) tetapi terus turun ke kiri bawah, apabila ketiga huruf terletak sesudah Jim, Ha, Kha, ‘Ain, Ghin, Shad, Dlad dan berada sebelum huruf Ra, Za, dan Nun yang berada di akhir kata.




       Bentuk Ba, Ta, dan Tsa yang berada di awal dan di tengah ini juga berlaku untuk huruf Nun dan Ya (yang membedakan hanya tempat dan jumlah titiknya.
c.   Jim, Ha’, dan Kha
1)      Jim, Ha, dan Kha di awal kata
a) Bentuknya seperti ujung panah dengan ujung bagian atasnya menutup, bila ketiga huruf ini dihubungkan dengan huruf yang cara menulisnya dari bawah ke atas, seperti Alif, Lam, Dal, Ha dan lain-lain.





b) Bentuknya seperti a) di atas hanya ujung bagian atasnya tidak runcing dan membuka, bila ketiga huruf tersebut dihubungkan dengan huruf yang cara menulisnya menurun dan mendatar.



2)   Jim, Ha, dan Kha di tengah kata
Bila ketiga huruf ini berada di tengah kata, maka bentuknya seperti pada 1b) di atas dengan ujung dan pangkalnya yang langsung dihubungkan dengan huruf lain.



3)      Jim, Ha, dan Kha di akhir kata
Bila ketiga huruf ini berada di akhir kata, bentuknya sama dengan yang berdiri sendiri (huruf tunggal).










d.   Dal dan Dzal
Dal dan Dzal tidak dapat menyambung ke huruf setelahnya, bila berada di awal atau tengah kata. Kedua huruf ini hanya bisa disambung, bila berada di akhir kata. Kalau berada di akhir kata, bentuknya sama dengan Dal-Dzal berdiri sendiri, hanya bagian atasnya lebih lurus.



e.   Ra dan Za
Ra dan Za tidah bisa ditempatkan (menyambung ke huruf setelahnya) bila berada  di awal atau tengah kata. Kedua huruf ini hanya bisa disambung dengan huruf sebelumnya (berada di akhir kata). Menulisnya sama dengan huruf tunggal.



f.   Sin dan Syin
1)   Sin, Syin di awal dan di tengah kata
Bila Sin atau Syin berada di awal dan di tengah kata, maka yang ditulis hanyalah bagian yang ada giginya saja.




2)   Sin, Syin di akhir kata
Bila Sin atau Syin berada di akhir kata, maka cara menulisnya sama seperti menulis huruf tunggalnya, tinggal huruf sebelumnya digandengkan dengan bagian Sin dan Syin yang ada giginya itu.



g.   Shad dan Dhad
1)   Shad, Dhad di awal dan di tengah
Bila Shad, Dhad berada di awal atau di tengah kata maka yang ditulis hanya bagian kepalanya saja. Antara kepala Shad, Dhad dengan huruf berikutnya harus dipisah dengan sebuah gigi. Gigi ini bisa juga dibuat berbentuk satu lekukan.



2)   Shad, Dhad di akhir
Bila Shad, Dhad berada di akhir kata, maka bentuknya sama dengan huruf tunggalnya. Tinggal menghubungkan huruf sebelumnya dengan bagian bawah kepala Shad, Dhad itu.





h.   Tha dan Zha
Tha, Zha apabila berada di awal, tengah, maupun akhir bentuknya sama. Bila berada di tengah atau akhir, huruf sebelumnya tinggal menghubungkan dengan bagian bawah yang berbentuk bulat telur itu. Dan setelah bagian yang seperti Alif tidak perlu ada gigi pemisah dengan huruf berikutnya.



i.    ‘Ain dan Ghin
1)   ‘Ain, Ghin di awal kata
Apabila ‘Ain, Ghin berada di awal kata, maka yang ditulis hanya kepalanya saja.
a)      Kalau bertemu dengan huruf yang cara menulisnya ke atas, maka bagian bawah dari kepalanya agak melengkung.



b)      Kalau bertemu dengan huruf yang cara menulisnya mendatar atau menurun, maka bagian bawah dari kepalanya agak lurus.





2)  ‘Ain, Ghin di tengah kata
Bila ‘Ain, Ghin berada di tengah kata yang ditulis hanya kepalanya saja dan bentuknya seperti dua buah kepala mim yang tidak berlubang (massive) yang dijadikan satu. Cara menulisnya dari kanan bawah, sejajar garis, pena di tarik, serong ke kiri-atas, bila sudah di atas garis datar (huruf) sebelumnya lalu ditarik ke kanan dengan bagian atasnya dibuat agak menonjol, selanjutnya pena ditarik turun (serong) ke kiri-bawah, kemudian disambung dengan huruf berikutnya.



3)  ‘Ain, Ghin di akhir kata
‘Ain, Ghin yang berada di akhir kata kepalanya sama dengan ‘Ain, Ghin berada di tengah kata dan ditambah dengan badan ‘Ain, Ghin tunggal yang lengkap.









j.    Fa
1)   Fa di awal
Bila Fa berada di awal kata, maka yang ditulis hanya kepala dan titiknya saja.



2)   Fa di tengah
Bila Fa berada di tengah kata, maka yang ditulis hanya kepala dan titiknya saja tanpa lehernya.



3)   Fa di akhir
Bila Fa berada di akhir kata, yang ditulis hanya kepalanya (seperti kalau berada di tengah kata), titik satu di atasnya dan badan Fa ditulis seperti badan Ba, Ta, dan Tsa tanpa leher.









k.   Qaf
1)   Qaf  di awal dan tengah
Bila Qaf  berada di awal atau tengah kata, maka cara menulisnya seperti menulis huruf Fa, hanya titambah dua titik di atas kepalanya.



2)   Qaf  di akhir
Bila Qaf  berada di akhir kata, maka bentuknya persis seperti Qaf  yang dengan huruf sebelumnya.



l.    Kaf
1)   Kaf di awal
Kaf  ini terdiri dari dua bagian. Cara menulisnya dari bagian kedua (bawah). Dimulai dari pertengahan baris pertama. Pertama kali membuat garis serong ke kanan-bawah. Setelah bagian kedua selesai, kemudian dibuat bagian yang pertama (atas), yang berupa garis lurus menyerong ke kanan-atas, disambungkan dengan bagian yang kedua. Menulis bagian pertama (atas)  dapat dimulai dari ujung sebelah bawah dahulu atau ujung sebelah atas.



2)   Kaf di tengah
Bentuk  Kaf  yang berada di tengah bentuknya bisa dibagi dua: bagian atas dan bagian bawah. Bagian bawah (yang disambung dengan huruf di depan dan di belakangnya) berbentuk garis lurus yang dibuat dari bawah (kanan) ke atas (kiri) yang ujungnya berada di baris pertama. Sedang bagian atas Kaf berupa garis lurus yang ditulis serong ke kanan atas (seperti Kaf biasa yang berada di depan). Sedangkan cara menyambungkan dengan huruf di belakangnya, kalau pena sudah membuat bagian kedua (bawah) sampai ujungnya, pena ditarik kembali mengikuti garis semula sampai pertengahan baris kedua, kemudian disambnug dengan huruf berikutnya.




3)   Kaf di akhir
Bila Kaf  berada di akhir kata, maka bentuk dan cara menulisnya seperti Kaf yang berdiri sendiri.






m.  Lam
1)   Lam di awal
Bila Lam berada di awal kata, maka yang ditulis hanyalah bagian yang seperti Alif, kemudian bagian bawahnya dihubungkan dengan huruf berikutnya. Bagian bawah yang dihubungkan dengan huruf lain ini membentuk sudut yang elastis, tidak kaku.



2)   Lam di tengah
Bila Lam berada di tengah kata, maka bentuknya seperti Lam berada di awal kata. Cara menulisnya secara langsung, dari sebelah kanan ditarik garis ke atas kemudian membentuk garis tegak, seperti Alif, dari atas ditarik garis ke bawah mengikuti garis semula, kemudian dihubungkan dengan huruf berikutnya.



3)   Lam di akhir
Lam yang berada di akhir kata, bentuknya bisa dua macam, yaitu:
a) Seperti Lam yang berdiri sendiri, bagian bawahnya bulat seperti Nun.



b) Seperti Lam yang berdiri sendiri, bagian bawahnya berupa garis mendatar, bisa pendek (setengah panjang Ba, Ta, Tsa) bisa pula panjang. Bagian bawah yang berupa garis panjang ini ditulis tepat di atas garis, bila Lam berdiri sendiri.




n.   Mim
1)   Mim di awal
Bila Mim berada di awal kata, maka hanya bagian pertama (kepalanya) saja yang ditulis.
a) Bila bertemu dengan huruf yang cara menulisnya mendatar atau naik, maka kepala Mim dibuat seperti kepala Mim yang berekor runcing.



b) Bila bertemu dengan huruf yang cara menulisnya menurun, kepala Mim ditulis seperti segitiga yang tanpa lubang di tengahnya (massive).








2)   Mim di tengah
Bila Mim berada di tengah kata, maka ada empat bentuk atau cara menulisnya:
a)      Berupa garis sepanjang dua titik. Bentuk pertama ini dibuat dengan bagian atasnya berupa garis menurun dan bagian bawahnya mendatar dan dihubungkan dengan huruf berikutnya.



b)      Berupa bentuk a) diatas, dengan bagian atasnya berupa garis serong dari atas ke bawah (kiri) dan bagian keduanya berupa garis naik yang kemudian dihubungkan dengan huruf berikutnya yang cara menulisnya dari atas atau bentuknya berupa garis tegak.



c)      Berupa bulatan panjang yang ditulis dari atas serong ke kiri, turun-serong ke bawah kanan kemudian naik serong ke atas kiri dan disambungkan huruf berikutnya. Bulatan panjang ini massive.





d)     Bentuknya berupa segi empat elastis dengan lubang di tengahnya (vacum). Cara menulisnya dari sebelah kanan, naik ke atas kemudian turun serong ke kiri. Goresan berikutnya dibuat dari sebelah bawah, naik serong ke kiri (bersambung dengan bagian akhir goresan pertama), kemudian disambung dengan huruf berikutnya.  




3)   Mim di akhir
Bentuk Mim di akhir kata bentuk dan cara menulisnya seperti Mim yang berdiri sendiri atau berada di tengah. Hanya bagian atasnya disambung dengan huruf sebelumnya.



o.   Nun
1)   Nun di awal dan tengah
Bila Nun berada di awal dan tengah kata, maka bentuknya seperti Ba, Ta, Tsa yang berada di awal dan tengah kata.






2)   Nun di akhir
Bila Nun berada di akhir kata, maka bentuknya seperti kalau Nun berdiri sendiri. Cara menghubungkannya dari sebelah kanan.



p.   Waw
Sebagaimana huruf Alif, Dal, Dza, Ra, Za, huruf Waw juga tidak bisa berada (dihubungkan secara langsung) di awal atau tengah kata. Dan apabila berada di akhir kata, bentuknya tetap, hanya tinggal menghubungkan saja.



q.   Ha
1)   Ha di awal
Bila Ha berada di awal kata, maka bentuk dan cara menulisnya sama seperti menulis Ha secara tunggal.




2)  Ha di tengah
Bila Ha berada di tengah kata, maka bentuk dan cara menulisnya ada 3 bentuk, yaitu:
a) Seperti Ha yang berada di awal dengan meluruskan bagian atasnya yang elastis.



b)  Bentuknya dua buah bulat telur, atas dan bawah, bagian bawah lebih besar dari bagian atasnya (Berlubang). Cara menulisnya dari arah kanan pena ditarik ke kiri (di atas garis), kemudian ditarik ke kanan, turun, membentuk bulat telur yang lebih kecil dan akhirnya pena ditarik ke kiri, sedikit di atas garis pertama.



c)      Berbentuk runcingan ke bawah. Cara menulisnya, pena ditarik ke bawah (serong ke kiri) sepanjang satu garis, lalu naik setinggi garis yang pertama lebih sedikit, kemudian pena ditarik ke kiri.







3)   Ha di akhir
a) Bentuknya seperti segitiga yang elastis (tidak kaku). Cara menulisnya, dari arah kanan pena ditarik ke atas setinggi satu setengah baris lalu ditarik ke kiri-kanan (serong). Kemudian ditarik ke kanan sehingga bertemu dengan garis yang ke atas tadi.



b) Bentuknya lurus ke bawah (serong). Cara menulisnya dari arah kanan ditarik garis ke kiri naik ke atas (serong) lalu dibuat garis lurus turun (serong ke kiri) sehingga ujungnya sama (di atas garis).



4)      Ha berdiri sendiri
Bila Ha atau Ta Marbuthah berdiri sendiri, maka bentuknya seperti O, bulat telur. Cara menulisnya dari atas (garis kedua Alif) ke kanan-bawah membentuk setengah bulat telur, kemudian membuat setengah bulat telur berikutnya, sehingga ujungnya bertemu dengan pangkalnya. Dapat juga dimulai dari arah kiri dahulu.tingginya maksimum satu baris.



r.    Lam-Alif
Lam-Alif  bisa berdiri sendiri, tidak bisa berada di awal atau tengah kata (digandeng langsung). Huruf ini hanya dapat digandeng, bila berada di akhir kata. Cara menulisnya: Lam ditulis serong ke kiri-bawah pada garis kedua (pertengahan tinggi Alif), dan Alif-nya ditulis sampai menyentuh (pertengahan bagian yang serong) pada Lam-nya.


                                                        
s.   Ya
1)   Ya di awal dan tengah
Bila Ya berada di awal atau tengah kata, maka bentuknya seperti Ba, Ta, Tsa, atau Nun. Yang membedakannya hanya titiknya saja.
2)   Ya di akhir
Bila Ya berada di akhir, maka bentuknya seperti asalnya dengan beberapa variasi:
a)      Kalau huruf sebelum Ya berupa huruf yang cara menulisnya mendatar, maka dari huruf tersebut langsung dihubungkan dengan badan atas Ya yang dibuat lebih kecil daripada kalau Ya berdiri sendiri.




b)      Kalau huruf sebelum Ya berupa huruf yang cara menulisnya menurun, maka hanya bagian bawah Ya yang ditulis. Bagian dari huruf sebelumnya yang dihubungkan dengan Ya membentuk ujung lekukan yang runcing.




c)      Bagian bawah Ya tidak dibuat seperti Nun tetapi dibuat berupa garis memanjang dari kiri ke kanan.



C.    Mata Pelajaran Al-Quran Hadits
       Mata pelajaran Al-Quran Hadits merupakan mata pelajaran yang mengarah kepada pemahaman dan penghayatan isi yang terkandung dalam Al-Quran Hadits yang diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dalam perilaku yang memancarkan iman dan taqwa kepada Allah SWT sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan Hadits.
       Mata pelajaran Al-Quran Hadits adalah salah satu mata pelajaran dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah. Aspek yang terkandung di dalamnya adalah berfokus pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. (Permenag No 2/2008)

 
BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Pendekatan dan Metode Penelitian
       Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang dilandasi oleh sebuah teori yang diukur dengan angka-angka dan dianalisis dengan proses statistik untuk menentukan perkiraan wilayah generalisasi yang benar. (Rasyid, 1999: 9)
       Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.  Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak sebagaimana adanya. (Nawawi, 1993: 63)
       Berdasarkan pengertian di atas, maka peneliti akan memaparkan bagaimana kemampuan menulis huruf hijaiyah dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 dengan mengumpulkan data untuk dianalisis secara statistik.

B.       Variabel dan Definisi Operasional
1.         Variabel Penelitian
       Variabel penelitian adalah suatu konsep atau objek yang dipilih untuk diteliti dan diuji kebenarannya secara empirik. (Rasyid, 2000: 53)

       Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dipahami bahwa variabel penelitian adalah suatu objek penelitian yang diuji kebenarannya secara empirik. Objek yang dipilih dalam penelitian ini adalah kemampuan menulis huruf hijaiyah dalam mata pelajaran Al-Quran-Hadits pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011, dengan aspek-aspek sebagai berikut:
a.    Kemampuan siswa kelas III dalam menulis huruf hijaiyah secara tunggal di MIN Teladan Pontianak.
b.    Kemampuan siswa kelas III dalam menulis huruf hijaiyah secara bersambung di MIN Teladan Pontianak.
2.         Definisi Operasional
       Definisi operasional adalah penjelasan dari masing-masing variabel yang ditetapkan dalam penelitian, agar terhindar dari kesalahan serta mudah dipahami maksud dan tujuan dalam penelitian ini. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata (1989: 79) bahwa variabel-variabel itu harus diklasifikasikan dan didefinisikan secara operasional.
       Definisi operasional yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.    Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal yaitu dapat menulis huruf hijaiyah satu persatu dari huruf Alif sampai huruf Ya.. Kemampuan ini dilihat dari tulisan huruf hijaiyah berdasarkan baris yang sudah ditentukan dengan benar, tepat dan rapih.
b.    Kemampuan menulis huruf hijaiyah bersambung yaitu dapat merangkai atau menyambung huruf hijaiyah dalam kata. Kemampuan menulis ini dilihat dari perubahan bentuk huruf ketika berada di awal, tengah, dan akhir dalam kata.

C.      Populasi dan Sampel Penelitian
1.         Populasi Penelitian
       Untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini, maka dari itu diperlukan sejumlah data yang objektif dari sumber data. Sumber data tersebut adalah populasi penelitian.
       Menurut Nawawi (1993: 141), populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai-nilai, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian.
       Berdasarkan pendapat di atas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Teladan Pontianak Tahun Ajaran 2010/2011 yang berjumlah 274 orang, dengan ketentuan sebagai berikut :
a.    Siswa kelas III A Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 40 orang.
b.    Siswa kelas III B Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 40 orang.
c.    Siswa kelas III C Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 40 orang.
d.   Siswa kelas III D Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 37 orang.
e.    Siswa kelas III E Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 39 orang.
f.     Siswa kelas III F Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 40 orang.
g.    Siswa kelas III G Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 38 orang.
2.         Sampel Penelitian
       Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel tersebut, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili). (Sugiyono, 2008: 118)
       Mengingat jumlah populasi cukup banyak, maka dalam pengambilan sampel (teknik sampling) peneliti menggunakan teknik sampling kuota. Teknik sampling kuota adalah teknik sampling yang tidak mendasarkan diri pada strata atau daerah, tetapi mendasarkan diri pada jumlah yang telah ditetapkan. (Suharsimi Arikunto, 1996: 128) 
       Berdasarkan pengertian di atas, maka sampel yang ditentukan dalam penelitian ini adalah siswa kelas III C MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 40 orang. Alasan peneliti mengambil sampel penelitian ini berdasarkan wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran Al-Quran Hadits yang mengatakan bahwa untuk anak kelas III C merupakan siswa yang memiliki kemampuan yang lebih baik dari kelas yang lain dan mudah diarahkan dalam proses belajar mengajar.

D.      Teknik, Alat, dan Prosedur Penelitian
       Dalam suatu penelitian, selain menggunakan metode yang tepat juga diperlukan teknik pengumpulan data serta alat yang tepat pula guna mencari objektifitas hasil penelitian, sehingga data yang diperoleh benar-benar relevan dengan masalah yang diteliti.
       Menurut Nawawi (1998: 94-95), terdapat 6 teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam suatu penelitian ilmiah, yaitu:
a.     Teknik observasi langsung
b.    Teknik observasi tdak langsung
c.     Teknik komunikasi langsung
d.    Teknik komunikasi tidak langsung
e.     Teknik pengukuran
f.     Teknik studi dokumentasi

      
Dari keenam teknik di atas, maka yang menjadi teknik dalam penelitian ini adalah teknik pengukuran yang bermaksud mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif. Teknik pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui tingkat atau derajat aspek tertentu dibandingkan dengan norma tertentu pula sebagai satuan ukur yang relevan.
       Teknik pengukuran yang dilakukan adalah dengan memberikan tes menulis huruf hijaiyah baik secara tunggal maupun bersambung yang telah peneliti siapkan sebelumnya. Tulisan siswa (data yang telah terkumpul) dari lembar kertas tulisan mereka merupakan alat sebagai sumber data utama. Setelah lembar tulisan siswa terkumpul, peneliti melakukan analisis data dengan cara mengeroksi tulisan siswa dengan teknik persentase.

E.       Teknik Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul, kemudian data tersebut disusun secara sistematis untuk mempermudah dalam menganalisis data.
Dalam analisis data, penelti melakukan pengkoreksian satu persatu dari hasil tes siswa dalam menulis huruf hijaiyah, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.         Analisis kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)        Mengubah skor kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dengan persentase koreksi. Nilai yang diperoleh siswa tersebut berdasarkan dengan menggunakan rumus
       S = 
Keterangan :
S  = Nilai kemampuan menulis yang diperoleh siswa
R  = Jumlah skor yang diperoleh
N =  Skor maksimum dari tes tersebut (Ngalim Purwanto, 1984: 143)

2)  Mencari nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal, dengan rumus sebagai berikut:
     x = 
Keterangan:
X = Nilai rata-rata seluruh kemampuan siswa
Xi= Jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah seluruh siswa (Nana Sudjana, 1989: 67)

3)    Menafsirkan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah secara tunggal, dengan kriteria sebagai berikut:
Kategori
Skala
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Kurang Baik
81-100%
61-80%
41-60%
21-40%
0-20%
      Sumber: Suharsimi Arikunto(1996: 29)
b.         Analisis kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 dengan langkah-langkah:
1)        Mengubah skor kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dengan persentase koreksi. Nilai yang diperoleh siswa tersebut berdasarkan dengan menggunakan rumus
       S = 
Keterangan :
S  = Nilai kemampuan menulis yang diperoleh siswa
R  = Jumlah skor yang diperoleh
N = Skor maksimum dari tes tersebut (Ngalim Purwanto, 1984: 143)

2) Mencari nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah bersambung dengan rumus sebagai berikut:
x = 
Keterangan:
X = Nilai rata-rata seluruh kemampuan siswa
Xi= Jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah seluruh siswa (Nana Sudjana, 1989: 67)

3) Menafsirkan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah bersambung, dengan kriteria sebagai berikut:
Kategori
Skala
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Kurang Baik
81-100%
61-80%
41-60%
21-40%
0-20%
      Sumber: Suharsimi Arikunto(1996: 29)
 
BAB IV
ANALISIS DATA

A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.      Letak Geografis MIN Teladan Pontianak
       Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Teladan Pontianak yang berlokasi di Jl. K.H. Ahmad Dahlan, awalnya berada di tepi jalan dan sangat strategis sehingga mudah untuk ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Karena mengalami perubahan bentuk sekolah, maka keberadaannya berubah yang posisinya masuk ke dalam, tepatnya berada di Gg. Jeruk.
       Pada mulanya madrasah ini bernama Islamiyah, yaitu pada tahun 1956 dengan ruang belajar hanya 7 lokal. Kemudian pada tahun 1970, keluarlah Surat Keputusan (SK) Menteri Agama RI No. 85 tahun 1970 yang menyatakan dengan resmi dan diberi nama MIN Teladan, yang awalnya memiliki status swasta dialihkan statusnya menjadi negeri sekaligus menyandang predikat teladan dan dikenal dengan nama MIN Teladan Bawamai Pontianak. Pada tahun 1973, ditambah satu unit sehingga ruang belajar menjadi 20 lokal. Kemudian pada tahun 1988, menambah lagi ruang belajar sebanyak 3 lokal.
       Pada tahun 2001, terjadi pemisahan satu sekolah dan satu lokasi. Hal ini disebabkan karena adanya pengambil alihan oleh ahli waris terhadap tanah yang diwariskan untuk membangun sekolah tersebut. Dengan adanya kejadian seperti ini, maka MIN Teladan dipisahkan menjadi 2 sekolah yaitu MIN Teladan (sekolah negeri) dan Sekolah Dasar Bawamai (sekolah swasta).
       Alamat MIN Teladan yang sekarang yaitu Jl. K.H. Ahmad Dahlan Gg. Jeruk Pontianak Kota dengan status negeri. Nomor statistik madrasah adalah 11161710030001. Untuk waktu kegiatan belajar terbagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas pagi dan kelas sore.
Pagi                 : Jam 07.00-12.10 WIB
-          Masuk       : Jam 06.50 WIB (untuk kelas I, V, dan VI)
Jam 09.45 WIB (untuk kelas II)
Siang               : Jam 12.50-1710 WIB
-          Masuk       : Jam 12.50 WIB ( untuk kelas III dan IV)
Sumber data: TU (Tata Usaha) MIN Teladan Pontianak Kota

2.      Visi MIN Teladan Pontianak
       Madrasah sebagai pusat keunggulan yang bisa menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang IPTEK dan IMTAQ.
3.      Misi MIN Teladan Pontianak
       Melaksanakan pendidikan yang selalu berorientasi pada mutu secara keilmuan maupun secara moral dan sosial, sehingga mampu menyiapkan sumber daya insan yang mempunyai kualitas di bidang IPTEK dan IMTAQ.


4.      Personalia MIN Teladan Pontianak
Kepala Sekolah                       : 1 orang
Wakil Kepala Sekolah             : 5 orang
Bendahara                               : 1 orang
Tata Usaha                              : 6 orang
Kondisi Guru                          :
Tabel 1
Jumlah Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak
Berdasarkan Diangkat Depag dan Depdiknas

Guru Depag
Guru Depdiknas
Pendidikan Terakhir
20
28
1
3
5
-
SI
DII
PGAN
         Sumber data: TU (Tata Usaha) MIN Teladan Pontianak Kota
       Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dilihat bahwa jumlah guru yang diangkat oleh Depag (sekarang Kementerian Agama) sebanyak 49 orang, jumlah guru yang diangkat oleh Depdiknas sebanyak 8 orang, dan jumlah guru tidak tetap (honor) sebanyak 8 orang.






5.      Data atau Keadaan Murid MIN Teladan Pontianak Berdasarkan Kelas
Tabel 2
Keadaan Murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak
Tahun Pelajaran 2010/2011 Berdasarkan Kelas

No
Kelas
Siswa
Laki-Laki
Siswa
Perempuan
Jumlah
Siswa
Jumlah
Kelas
1.
Kelas I
124 orang
112 orang
236 orang
7 kelas
2.
Kelas II
139 orang
135 orang
274 orang
7 kelas
3.
Kelas III
137 orang
137 orang
274 orang
7 kelas
4.
Kelas IV
169 orang
189 orang
358 orang
8 kelas
5.
Kelas V
107 orang
147 orang
254 orang
6 kelas
6.
Kelas VI
118 orang
147 orang
265 orang
6 kelas

Jumlah
794 orang
867 orang
1661 orang
41 kelas
Sumber data: TU (Tata Usaha) MIN Teladan Pontianak Kota

       Dari tabel di atas, dapat kita lihat bahwa jumlah siswa laki-laki dari kelas I sampai kelas VI adalah 794 orang dan jumlah siswa perempuan adalah 867 orang. Jadi jumlah keseluruhan siswa dari kelas I sampai kelas VI adalah 1661 orang, dengan jumlah kelas sebanyak 41 kelas.





6.      Sarana dan Prasarana MIN Teladan Pontianak
Tabel 3
Sarana dan Prasarana Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak
Tahun Pelajaran 2010/2011

Sarana dan Prasarana
Jumlah
Ruang Kelas
Ruang Kantor
Ruang Perpustakaan
Lapangan Olahraga
Ruang Kesenian
Ruang UKS
Mushalla
WC
Ruang Kepala Sekolah
TU (Tata Usaha)
Wakepsek/Guru
Ruang Pramuka
Ruang KTK
Koperasi
Ruang Guru
Ruang Pertemuan/Aula
Kantin Sekolah
21
4
1
1
1
1
-
12
1
1
1
1
1
2
1
1
-
 Sumber data: TU (Tata Usaha) MIN Teladan Pontianak Kota


B.     Analisis Data
1.      Pemeriksaa Data
       Sebagaimana yang telah ditetapkan bahwa data yang diperoleh dari penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik pengukuran tes secara tidak langsung, dengan mengambil tulisan siswa tentang kemampuan menulis huruf hijaiyah baik secara tunggal maupun secara bersambung yang telah dilaksanakan pada tanggal 01 Juni 2011.
       Untuk memastikan hasil tes tidak keliru, maka peneliti memeriksa data dengan cara mengoreksi hasil tulisan siswa. Setelah itu, peneliti mengadakan pengolahan data terhadap data yang sudah memenuhi kriteria.
2.      Kuantifikasi Data
       Sebelum pengolahan data dilakukan, terlebih dahulu peneliti memberikan skor terhadap hasil tes menulis siswa dengan menetapkan standar penilaian.
a.       Untuk tes yang mengukur kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal, penilaiannya didasarkan pada benar, tepat dan rapinya  tulisan dan pembentukan huruf pada setiap garis yang telah ditetapkan. Jumlah pertanyaan dalam tes adalah sebanyak 28 item, dengan rincian bila jawaban benar memperoleh nilai 1 dan bila salah memperoleh nilai 0. Standar penilaiannya sebagai berikut:


Tabel 4
Standar Penilaian Kemampuan Menulis Huruf Hijaiyah Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak

Kategori
Skala
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Kurang Baik
81-100%
61-80%
41-60%
21-40%
0-20%
   Sumber: Suharsimi Arikunto(1996: 29)

b.      Untuk tes yang mengukur kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung, penilaiannnya berdasarkan penulisan dan perubahan bentuk setiap huruf yang berada di awal, tengah, dan akhir dari setiap kata. Setiap satu huruf yang salah atau keliru maka dianggap salah dalam penulisan. Jumlah pertanyaannya adalah 84 item (28 untuk setiap huruf yang berada di awal, tengah, dan akhir kata). Apabila jawaban benar memperoleh nilai 1 dan bila salah nilainya 0. Standar penilaiannya sama seperti pada tes menulis huruf hijaiyah secara tunggal di atas pada tabel 4.
       Tes kemampuan menulis huruf hijaiyah baik secara tunggal maupun secara bersambung ini dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa cara penulisan huruf hijaiyah atau huruf Arab adalah mutlak. Penulisan ini berpedoman pada Khat Naskhi, dimana model tulisan ini dapat kita kenali bila membaca al-Qur’an. (Husain, 1985: 22)
3.      Pengolahan Data
       Setelah data diperoleh secara lengkap untuk mengetahui bagaimana kemampuan menulis huruf hijiayah baik secara tunggal maupun secara bersambung pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak Kota Tahun Pelajaran 2010/2011, maka data tersebut dianalisis dengan persentase koreksi.
       Berikut ini adalah analisis kemampuan menulis huruf hijaiyah pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak Kota tahun pelajaran 2010/2011:
a.    Analisis kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Mengubah skor kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dengan persentase koreksi. Nilai yang diperoleh siswa tersebut menggunakan rumus:
       S = 
Keterangan :
S  = Nilai kemampuan menulis yang diperoleh siswa
R  = Jumlah skor yang diperoleh
N =  Skor maksimum dari tes tersebut
       Berdasarkan rumus di atas, maka dapat diperoleh nilai tentang kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dengan rincian sebagai berikut. S adalah lambang untuk nilai yang ingin diperoleh dari hasil tulisan siswa. R adalah lambang untuk jumlah skor yang diperoleh dari hasil koreksian tulisan siswa, jumlah terendah 0 dan tertinggi 28 . N adalah skor maksimum dari tes menulis siswa yang berjumlah 28. Nilai seluruh siswa kelas III dalam kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5
Nilai Tes Kemampuan Menulis Huruf Hijaiyah Secara Tunggal
 Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak

No
Nama Siswa
Skor
Nilai (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
Affifatuzahara
Amirah Baraqbah
Ario Putanto Prasojo
Berliana Sifaur Rahma W
Dhea Siti Fadillah
Dwi Ratna Chairunnisa
Fadhil
Fadillah Rizky Amelia
Fahriansyah
Fauzan
Fenti Nurdiana Rahmawati
Fikry Iman Rabbany
Firausi Fatin
Ghufron Nurhalim
Gilang Muhammad Hasbillah
Gilang Safi’ul Anam
Harits Firmansyah
Indah Ayu Fitaloka
Lily Dwiyani
Lutfhyanto
Muhammad Akmal Farid
Muhammad Ashabil Kahfi
Muhammad Ibrani Aldin
Muhammad Mahfud T.
Muhammad Riski Apriandi
Nabil Zuhdi
Najla
Najwa Nismara
Nur Ismi Radinasari
Qarina Khairunnisa R
Rafi Anshary
Shafira Khairunnisa R
Shakila Mutiara Nadia
Syafadilla Oxa Putri
Sy. M. Dibaj Adib
Sy. Rizky Fajrillah
Surya Shafarudin
Talitha Zahra Alamsyah P.
Tri Rizki Sajadah
Zakiyah Humairah
6
12
3
9
13
8
12
12
10
5
9
16
5
12
10
11
6
8
6
5
10
6
16
5
9
10
10
12
11
5
7
12
9
8
8
5
6
5
9
16
21.42
42.85
10.71
32.14
46.42
28.57
42.85
42.85
35.71
17.85
32.14
57.14
17.85
42.85
35.71
39.28
21.42
28.57
21.42
17.85
35.71
21.42
57.14
17.85
32.14
35.71
35.71
42.85
39.28
17.85
25.00
42.85
32.14
28.57
28.57
17.85
21.42
17.85
32.14
57.14

Jumlah
357
1274.79

2)   Mencari nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal, dengan rumus sebagai berikut:
     x = 
Keterangan:
X = Nilai rata-rata seluruh kemampuan siswa
Xi= Jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah seluruh siswa
       Berdasarkan hasil tes kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal, maka diperoleh jumlah nilai seluruh siswa yaitu 1274.79. Untuk melihat nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal siswa kelas III dapat dihitung dengan membagi jumlah nilai seluruh siswa dengan jumlah seluruh siswa yang berjumlah 40 orang. Dari hasil bagi tersebut, maka nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal adalah 31.86.
3)  Menafsirkan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah secara tunggal, dengan kriteria atau standar penilaian pada tabel 4.Berdasarkan hasil perhitungan dan kriteria yang telah ditentukan, maka dapat ditafsirkan bahwa kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 dikategorikan kurang. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata yaitu 31.86 yang berada pada skala 21-40%.
b.    Analisis kemampuan menulis huruf hijaiyah bersambung pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 dengan langkah-langkah:
1)   Mengubah skor kemampuan menulis huruf hijaiyah bersambung dengan persentase koreksi. Nilai yang diperoleh siswa dengan menggunakan rumus
       S = 
Keterangan :
S  = Nilai kemampuan menulis yang diperoleh siswa
R  = Jumlah skor yang diperoleh
N = Skor maksimum dari tes tersebut
       Berdasarkan rumus di atas, maka dapat diperoleh nilai tentang kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dengan rincian sebagai berikut. S adalah lambang untuk nilai yang ingin diperoleh dari hasil tulisan siswa. R adalah lambang untuk jumlah skor yang diperoleh dari hasil koreksian tulisan siswa, jumlah terendah 0 dan tertinggi 84. N adalah skor maksimum dari tes menulis siswa yang berjumlah 84. Nilai seluruh siswa kelas III dalam kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung, baik huruf ketika berada di awal, tengah, maupun akhir dapat dilihat pada tabel berikut:


Tabel 6
Nilail Tes Kemampuan Menulis Huruf Hijaiyah Secara Bersambung
 Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak

No
Nama Siswa
Jumlah Skor
Nilai
(%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
Affifatuzahara
Amirah Baraqbah
Ario Putanto Prasojo
Berliana Sifaur Rahma W
Dhea Siti Fadillah
Dwi Ratna Chairunnisa
Fadhil
Fadillah Rizky Amelia
Fahriansyah
Fauzan
Fenti Nurdiana Rahmawati
Fikry Iman Rabbany
Firausi Fatin
Ghufron Nurhalim
Gilang Muhammad Hasbillah
Gilang Safi’ul Anam
Harits Firmansyah
Indah Ayu Fitaloka
Lily Dwiyani
Lutfhyanto
Muhammad Akmal Farid
Muhammad Ashabil Kahfi
Muhammad Ibrani Aldin
Muhammad Mahfud T.
Muhammad Riski Apriandi
Nabil Zuhdi
Najla
Najwa Nismara
Nur Ismi Radinasari
Qarina Khairunnisa R
Rafi Anshary
Shafira Khairunnisa R
Shakila Mutiara Nadia
Syafadilla Oxa Putri
Sy. M. Dibaj Adib
Sy. Rizky Fajrillah
Surya Shafarudin
Talitha Zahra Alamsyah P.
Tri Rizki Sajadah
Zakiyah Humairah
14
39
0
32
32
19
15
29
23
22
15
33
13
22
25
29
19
25
17
17
12
23
42
25
15
17
25
30
29
17
15
16
18
30
23
24
19
20
15
44
16.66
46.42
0
38.09
38.09
22.61
17.85
34.52
27.38
26.19
17.85
39.28
15.47
26.19
29.76
34.52
22.61
29.76
20.23
20.23
14.28
27.38
50.00
29.76
17.85
20.23
29.76
35.71
34.52
20.23
17.85
19.04
21.43
35.71
27.38
28.57
22.61
23.80
17.85
52.38


Jumlah
899
1070.05

2)   Mencari nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dengan rumus sebagai berikut:
x = 
Keterangan:
X = Nilai rata-rata seluruh kemampuan siswa
Xi= Jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah seluruh siswa
       Berdasarkan hasil tes kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung, maka diperoleh jumlah nilai seluruh siswa yaitu 1070.05. Untuk melihat nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung pada siswa kelas III dapat dihitung dengan membagi jumlah nilai seluruh siswa dengan jumlah seluruh siswa yang berjumlah 40 orang. Dari hasil bagi tersebut, maka nilai rata-rata kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal adalah 26.75.
3) Menafsirkan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah secara bersambung, dengan kriteria tertentu. Berdasarkan hasil perhitungan dan kriteria yang telah ditentukan, maka dapat ditafsirkan bahwa kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran dikategorikan kurang. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata yaitu 26.75 yang berada dalam skala 21-40%. Kriteria kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dapat dilihat pada tabel 4.

C.    Pembahasan
       Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang dilakukan pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011, mengenai kemampuan menulis huruf hijaiyah dapat dikategorikan kurang dalam menulis huruf hijaiyah, baik menulis huruf hijaiyah secara tunggal maupun secara bersambung.
       Adapun pembahasan mengenai kemampuan menulis huruf hijaiyah pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut:
1.    Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 termasuk dalam kategori kurang. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang diperoleh dari nilai rata-rata siswa yaitu 31.86. Pada umumnya, siswa sudah mengenal bentuk huruf hijaiyah dari huruf Alif  sampai huruf Ya yang ditulis dalam huruf latin diubah menjadi huruf hijaiyah. Akan tetapi, ketika menuliskannya ke bentuk huruf hijaiyah atau huruf Arab kurang. Ini dibuktikan pada hasil koreksian siswa, ketika siswa menulis setiap huruf hijaiyah tidak sesuai dengan baris yang sudah ditentukan oleh peneliti. Contoh, ketika siswa menulis huruf Alif, rata-rata mereka menuliskannya lebih dari 2 baris.
Menurut Husain (1985: 33), menjelaskan bahwa bentuk huruf Alif  tegak lurus, tingginya 2 baris, dan cara menulisnya dari atas ke bawah.
2.    Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung pada siswa kelas III MIN Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011 termasuk dalam kategori kurang. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang diperoleh dari nilai rata-rata siswa yaitu 26.75. Pada umumnya, siswa sudah bisa menempatkan setiap kalimat Arab ke bagian huruf hijaiyah yang berada di awal, tengah, dan akhir . Akan tetapi, ketika menyambung huruf hijaiyah ke bentuk tulisan Arab sangat kurang. Ini dibuktikan pada hasil koreksian siswa, ketika siswa menyambung huruf baik yang berada di awal, tengah, maupun akhir tidak sesuai dengan perubahan bentuk huruf yang terjadi.

 
BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, dapatlah disimpulkan bahwa kemampuan menulis huruf hijaiyah dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011, termasuk dalam kategori kurang. Untuk lebih jelasnya, dapat dirincikan sebagai berikut:
1.         Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara tunggal dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011, termasuk dalam kategori kurang dengan nilai rata-rata 31.86 %. Dari 40 siswa yang dijadikan sampel, terdapat 10 orang yang mendapatkan nilai cukup, sedangkan 30 orang siswa lainnya mendapat nilai kurang.
2.         Kemampuan menulis huruf hijaiyah secara bersambung dalam mata pelajaran Al-Quran Hadits pada siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Teladan Pontianak tahun pelajaran 2010/2011, termasuk dalam kategori kurang dengan nilai rata-rata 26.75 %. Dari 40 siswa yang dijadikan sampel, terdapat 3 orang mendapat nilai cukup, sedangkan 37 siswa yang lainnya mendapat nilai kurang.



B.       Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti ingin memberikan masukan berupa saran sebagai berikut:
1.         Diharapkan kepada kepala sekolah untuk lebih memperhatikan dan membuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas siswa dalam penguasaan Al-Quran, seperti pelatihan keterampilan menulis huruf hijaiyah.
2.         Kepada guru PAI, diharapkan bisa melatih siswa dalam menulis huruf hijaiyah pada setiap pertemuan pelajaran. Minimal menyuruh siswa menulis basmalah ketika memulai pelajaran di buku catatannya atau menulis kembali ayat Al-Quran yang terdapat di buku paket.
3.         Kepada siswa diharapkan untuk selalu meningkatkan prestasi belajar, seperti belajar Al-Quran. Dalam belajar Al-Quran tidak hanya belajar dari segi membaca, menghafal, menterjemahkan saja, akan tetapi segi penulisan perlu diperhatikan juga. 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Karim Husain, (1985), Seni Kaligrafi Khat Naskhi, Jakarta: CV. Pedoman    Ilmu Jaya.  

Abdul Majid dan Dian Andayani, (2004), Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Abdul Rachman Shaleh, (2005), Pendidikan Agama Islam dalam Pembangunan Watak Bangsa, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Aep Kusnawan, (2004), Berdakwah Lewat Tulisan, Bandung: Mujahid Press.

Ahmad Izza, (2004), Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Bandung: Humaniora.

Departemen Agama Republik Indonesia, (2005), Al-Quran dan Terjemahnya, Bandung: CV Penerbit J-ART.

Fadlulah, (2008), Orientasi Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Diadit Media.

Hadari Nawawi, (1998), Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Harun Rasyid, (1999), Metode Penelitian Kuantitatif, Pontianak: Romeo Grafika.

Hendra Sugiantoro, Menulis, Tradisi Islam, http://www.dakwah-uny.com/berita-151-menulis, tradisi Islam. htm. (diakses 20 September 2010).

Hendry Wahyudi, (2004), Kemampuan Membaca dan Menulis Al-Qur’an Mahasiswa Tarbiyah STAIN Pontianak Angkatan 2003-2004 Skripsi: STAIN.

Ibnu Hajar, (1996), Dasar-Dasar Metodologi Kuantitatif  Dalam Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Indasyah, (2007), Kemampuan Menulis Ayat-Ayat Al-Quran pada Mahasiswa STAIN Pontianak Angkatan 1995/1996, Skripsi: STAIN.

Muhammad Bin Muhammad Abu Syuhbah, (2003), Studi Ulumul Qur’an: Telaah atas Mushaf Ustmani, Bandung: CV Pustaka Setia.

M. Quraish Shihab, (1999), Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan.

Nana Sudjana, (1989), Metode Statistika, Bandung: Tarsito.

Sugiyono, (2008), Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta.

Surya Madya, Dkk, (2004), Kiat Mudah&Cepat Baca Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Amma.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar